Track Record Menkeu Baru Agus Martowardojo

Umumnya berbagai kalangan menyambut baik pengangkatan Agus Marto yang  sebagai pengganti Sri Mulyani yang bertugas di tempat barunya World Bank. Track record Agus Marto memimpin bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri, menjadi point penting ekspetasi khalayak untuk berhasil memimpin sebuah Kementerian yang mempunyai tanggung jawab luar biasa besar.  Dia juga dinilai memiliki kelebihan dari sisi kebijakan mikro/riil , manajemen, serta penguasaan perbankan. Kelemahannya kurang menguasai fiskal dan makro ekonomi yang dapat ditutupi oleh duetnya Anny Ratnawati (Wamenkeu).

Prestasi

Prestasi terbesar Agus Marto adalah keberhasilan mengelola dan membenahi Bank Mandiri sehingga menjadi bank yang sehat bahkan menjadi bank yang mempunyai aset terbesar di tanah air (370 T). Indikatornya lain : NPL (Net Performing Loan)  dari 26 % (2006) menjadi 0.42 (2009), laba bersih tahun 2006 sebesar 600 M menjadi Rp 7,2 triliun pada 2009. Ada 2 faktor positif terhadap sosok Agus Marto dikaitkan dengan Bank Mandiri:

1. Tegas dan tidak kompromi dengan pengemplang

Awal masuk Bank Mandiri tahun 2005, NPL Bank Mandiri mencapai 26 % dengan jumlah potensi kredit macet sekitar 27 Triliun, 70 % dari NPL tadi disumbangkan  30 nasabah besar. Debitur bermasalah ini diminta memperbaiki kinerja hutangnya, meskipun awalnya sulit dinegoisasi akhirnya Agus Marto mampu menekan mereka untuk bekerja sama, salah satu caranya yaitu dengan mengumumkan nama-nama mereka di media.

Keberhasilan menekan para debitor besar bermasalah inilah yang menjadi point penting Agus Marto. Dia dinilai mempunyai sikap yang tidak mudah diintervensi. Integritas dan ketegasan seperti ini yang diharapkan publik agar ketika menjadi Menkeu dia akan bertindak tegas terhadap para pengemplang besar pajak.

Baca juga:  Menanti PP Kenaikan Gaji

2. Merubah Budaya Kerja

Penerapan sistem kinerja dengan berbasis  KPI (key performance indicator) menjadi pilar perubahan budaya kerja di bank Mandiri. Dari citra bank pemerintah yang identik dengan prosedur birokratif sampai uang komisi menjadi bank dengan yang penetapan nilai budaya dan standard perilaku baru. Semua karyawan dari direksi sampai level terendah diterapkan reward dan punishment yang didasarkan penilaian. Sehingga kalau bisa memperoleh prestasi di atas kinerja umum, bisa memperoleh kenaikan gaji dan bonus yang berlainan. Sebaliknya jika diketahui melakukan tindakan pelanggaran, maka tindakan tegas tidak segan dilakukan. Sebagai gambaran tahun 2006 & 2007  ada 98 karyawan dikeluarkan karena tindakan tak disiplin dan menerima suap.

Ganjalan

Di sisi lain ada kasus-kasus yang pernah mengiringi seorang Agus Marto dalam perjalanan kariernya yang cemerlang di Bank Mandiri.

1.  Kasus Bank Merincorp

Kasus tersebut berhubungan dengan pengambilalihan Bank Merincorp oleh Bank Exim yang dipimpin Agus Marto.. Komposisi awal kepemilikan saham Bank Merincorp adalah 74 % dikuasai Bank Exim dan 26 % milik Bank Sumitomo, Jepang. Tahun 1999 memiliki CAR minus 22.7 % dan juga memiliki kredit macet sebesar Rp 337 M, serta juga memiiki hutang kepada bank Sumitomo sebesar $ 30 Juta. Guna mengikuti program restrukturisasi, Bank Merincorp diwajibkan memiliki CAR 4%. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, Bank Sumitomo harus menyetor modal Rp87,56 miliar dan Bank Mandiri (sebagai merger Bank Exim, Bank Dagang Negara, Bank Bapindo dan Bank Bumi Daya) sebesarRp249,3 miliar.

Atas permasalahan tersebut Dirut Bank Sumitomo Yasuji Sumitomo dan Dirut Bank Mandiri Robby Djohan melakukan pertemuan pada 25 Februari 1999. Kesepakatannya adalah 26% saham Bank Merincorp yang dikuasai Bank Sumitomo diambil alih Bank Exim yang kemudian merger menjadi Bank Mandiri. Akibat keputusan tersebut Bank Mandiri mengalami kerugian karena  Bank Merincorp memiliki kredit macet Rp337 miliar dan Bank Mandiri mengambil alih kewajiban Merincorp kepada Bank Sumitomo US$30 juta.

Baca juga:  #prayforindonesia

Dari hasil audit BPK menyebutkan, pengelolaan kredit Bank Mandiri Semester I tahun Anggaran 2003-2004 menyebutkan, novasi hutang Bank Merincorp sebesar US$30 juta kepada Sumitomo tidak sejalan dengan tujuan restrukturisasi dan melanggar AD/ART perseroan. Kasus ini mulai ditangani Kejaksaan Agung pada Februari 2005, saat itu Jampidsus-nya Hendarman Supandji (sekarang Jaksa Agung). Akhirnya setelah hampir 1 tahun, Kejaksaan Agung pada awal 2006 memutuskan untuk menghentikan sementara kasus ini tanpa Surat Perintah Penghentian Perkara (SP3).

2. Skema MSOP (Management Stock Option Program)

Kasus inilah yang menjadi pemicu awal perselisihan Agus Marto dengan serikat pegawai Bank Mandiri. Serikat pegawai menganggap ada perlakuan tidak adil yaitu skema MSOP diterima adalah hanya pegawai officer (level pimpinan) dengan grade tertentu saja.

3. Perselisihan Internal dengan Serikat Pegawai

SP Bank mandiri menilai ada kebijakan diskriminatif dari pihak manajemen seperti skema MSOP dan kenaikan gaji yang tidak adil. Mencapai puncaknya ketika terjadi unjuk rasa pada tanggal pada tanggal 4 Agustus 2007 dengan rute Lapangan Banteng-Kantor Meneg BUMN-Istana Wapres-Istana Presiden-Masjid Istiqal menuntut perubahan kebijakan-kebijakan yang dinilai diskriminatif. Pasca demonstrasi pihak manajemen mengambil tindakan kepada para pimpinan SPBM, ujungnya keluar surat pemecatan kepada Pimpinan SPBM saat itu, Mirisnu Viddiana.

Baca juga:  Remunerasi Rumah Sakit BLU Kemenkes

Tidak terima perlakuan seperti itu, pada tgl 7/11/2007 belasan pegawai Bank Mandiri melaporkan jajaran Direksi Bank Mandiri, antara lain Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo ke Mabes Polri dengan tuduhan melanggar UU 21/2000 tentang Serikat Pekerja, pasal 28 dan 43 tentang pelarangan pembentukan serikat pekerja. Polda Metro Jaya yang menangani laporan tersebut akhirnya mengeluarkan status SP3 alias menghentikan penyelidikan dengan alasan tidak cukup bukti

Sebelumnya manajemen Bank Mandiri juga dibuat gerah ketika seorang pegawainya mengirim surat ke Ibu Ani Yudhoyono yang isinya menyangkut soal gratifikasi dan skandal Bank Merincorp lengkap dengan dokumen pendukungnya.

4. Penolakan  DPR sebagai Calon Gubernur BI Th 2008

Bersama Raden Pardede, Agus Marto diajukan pemerintah SBY-JK sebagai calon Gubernur BI menggantikan Burhanudin Abdullah. Dalam proses fit and proper test keduanya ditolak DPR, salah satu alasan penolakan adalah Agus Marto dinilai belum memahami seluk beluk kebijakan moneter yang menjadi tanggung jawab utama BI.

Epilog

Di berbagai kesempatan Agus Marto menyatakan komitmennya untuk melanjutkan Reformasi Birokrasi yang telah dimotori pendahulunya, Sri Mulyani. Pembangunan SDM yang lebih baik menjadi prioritas.  Sekarang dia membawahi lebih dari 62.000 pegawai Depkeu yang berbaju PNS. Masalah lampau jangan menjadi hambatan untuk membentuk PNS yang profesional dan tidak koruptif. Pembenahannya di Bank Mandiri menunjukkan pola sistematis yang sejalan dengan reformasi birokrasi yaitu melakukan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang menyangkut aspek kelembagaan, penatalaksanaan dan SDM menuju Good Governance.

So,  lanjutkan reformasi birokrasi !!

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Share
Share