Alangkah Korupnya Indonesia

Alangkah memprihatinkan, Indonesia masuk dalam jajaran negara negara terkorup di dunia. Praktik korupsi masih terus merajalela.

Posisi korupsi Indonesia menempati urutan ke-100 dari 183 negara. Secara kuailitatif, praktik korupsi Indonesia termasuk sangat buruk, yang tidak banyak beda dengan kondisi sejumlah  negara di Afrika seperti Benin, Burkina Faso dan Gabon. Indeks persepsi korupsi menurut hasil survey lembaga Transparansi International memang tergolong sangat buruk, berada pada level 3 dari skala 0-10. Angka 0 (nol) sangat buruk, sementara 10 sangat bersih.

Peringkat Indonesia tahun ini tidak banyak berbeda dibandingkan dengan tahun lalu. Indonesia hanya merangkak  0,2 dari angka tahun lalu. Kenyataan ini menggambarkan upaya  pemberantasan korupsi berjalan ditempat. Tidak ada kemajuan, apalagi terobosan.

Pada level kawasan, peringkat Indonesia lebih buruk ketimbang sesama negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Brunei dan  Thailand. Suka atau tidak persepsi global dan regional tentang  korupsi di Indonesia tergolong sangat memprihatinkan. Persepsi  itu tentu tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan refleksi  kenyataan.

Sudah menjadi kegelisahan umum, praktik korupsi di kalangan pejabat Indonesia merebak luas dari pusat sampai ke daerah-daerah. Tentu menjadi pertanyaan dasar, mengapa realitas dan  persepsi tentang korupsi Indonesia masih tetap buruk,  sementara selalu digembar-gemborkan tentang upaya  pemberantasan korupsi.

Baca juga:  Belanja Pegawai Dalam RAPBN 2013

Kenyataan itu memperlihatkan kegaduhan tentang upaya  pemberantasan korupsi lebih sebagai retorika ketimbang  sebagai usaha serius. Sensasi lebih diutamakan ketimbang  substansi. Sejumlah kasus korupsi diangkat dan dibongkar  tetapi tidak pernah dibereskan secara tuntas. Banyak pula
kasus korupsi yang ditutup-tutupi.

Tidak habis pikir pula mengapa praktik korupsi mengganas meski  sejumlah pejabat ditangkap dan ditahan. Berbagai kalangan berpendapat, koruptor hanya merasa apes atau kena sial jika tertangkap. Berdasarkan hitungan pula koruptor masih merasa  lebih untung secara materi sekalipun ditahan. Uang hasi korupsi  tetap jauh lebih menggiurkan meski dihukum, yang lazimnya  ringan-ringan saja di Indonesia.

Korupsi pun merebak luas tak terkendali dalam berbagai  tingkatan kekuasaan pemerintah, parlemen, jaksa, hakim, polisi  dan sebagainya. Tak ada tanda-tanda bahaya korupsi akan surut, sementara ekspresi kekecewaan di kalangan masyarakat  semakin meningkat.

Dampak praktik korupsi semakin terlihat dari proses  pembangunan yang kedodoran. Angka kemiskinan masih  mencapai puluhan juta penduduk. Mulai diwacanaka pula  tentang bahaya lebih besar jika praktik korupsi tak segera  dihentikan. Negara besar seperti Kekaisaran Romawi atau Uni  Sovyet, ambruk antara lain karena korupsi.

Tajuk Rencana Kompas, 03/12/2011

Baca juga:  Mengapa RUU Aparatur Sipil Negara (ASN) Belum Disahkan?

 

Alangkah memprihatinkan, indonesia masuk dalam jajaran negara negara terkorup di dunia. Praktik korupsi masih terus merajalela.

Posisi korupsi Indonesia menempati urutan ke-100 dari 183

negara. Secara kuailitatif, praktik korupsi Indonesia termasuk

sangat buruk, yang tidak banyak beda dengan kondisi sejumlah

negara di Afrika seperti Benin, Burkina Faso dan Gabon.
Indeks persepsi korupsi menurut hasil survey lembaga

Transparansi International memang tergolong sangat buruk,

berada pada level 3 dari skala 0-10. Angka 0 (nol) sangat

buruk, sementara 10 sangat bersih.

Peringkat Indonesia tahun ini tidak banyak berbeda

dibandingkan dengan tahun lalu. Indonesia hanya merangkak

0,2 dari angka tahun lalu. Kenyataan ini menggambarkan upaya

pemberantasan korupsi berjalan ditempat. Tidak ada kemajuan,

apalagi terobosan.

Pada level kawasan, peringkat Indonesia lebih buruk ketimbang

sesama negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Brunei dan

Thailand. Suka atau tidak persepsi global dan regional tentang

korupsi di Indonesia tergolong sangat memprihatinkan. Persepsi

itu tentu tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan refleksi

kenyataan.

Sudah menjadi kegelisahan umum, praktik korupsi di kalangan

pejabat Indonesia merebak luas dari pusat sampai ke daerah-

daerah. Tentu menjadi pertanyaan dasar, mengapa realitas dan

persepsi tentang korupsi Indonesia masih tetap buruk,

Baca juga:  Remunerasi Pejabat

sementara selalu digembar-gemborkan tentang upaya

pemberantasan korupsi.

Kenyataan itu memperlihatkan kegaduhan tentang upaya

pemberantasan korupsi lebih sebagai retorika ketimbang

sebagai usaha serius. Sensasi lebih diutamakan ketimbang

substansi. Sejumlah kasus korupsi diangkat dan dibongkar

tetapi tidak pernah dibereskan secara tuntas. Banyak pula

kasus korupsi yang ditutup-tutupi.

Tidak habis pikir pula mengapa praktik korupsi mengganas meski

sejumlah pejabat ditangkap dan ditahan. Berbagai kalangan

berpendapat, koruptor hanya merasa apes atau kena sial jika

tertangkap. Berdasarkan hitungan pula koruptor masih merasa

lebih untung secara materi sekalipun ditahan. Uang hasi korupsi

tetap jauh lebih menggiurkan meski dihukum, yang lazimnya

ringan-ringan saja di Indonesia.

Korupsi pun merebak luas tak terkendali dalam berbagai

tingkatan kekuasaan pemerintah, parlemen, jaksa, hakim, polisi

dan sebagainya. Tak ada tanda-tanda bahaya korupsi akan

surut, sementara ekspresi kekecewaan di kalangan masyarakat

semakin meningkat.

Dampak praktik korupsi semakin terlihat dari proses

pembangunan yang kedodoran. Angka kemiskinan masih

mencapai puluhan juta penduduk. Mulai diwacanaka pula

tentang bahaya lebih besar jika praktik korupsi tak segera

dihentikan. Negara besar seperti Kekaisaran Romawi atau Uni

Sovyet, ambruk antara lain karena korupsi.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Share
Share